Pengalaman belajar Bahasa Arab dan Study Islam di LIPIA Jakarta

Naysath ID LIPIA Jakartawww.ahmadzainuddin.com — LIPIA sebuah kata yang sering salah didengar dengan kata LIBYA, karena miripnya kata ini. Apabila disebut nama ini sebagian orang ada yang paham ada pula yang tidak, sebagian besar pondok pesantren di Indonesia banyak yang tahu akan cabang Universitas ini. LIPIA adalah singkatan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab

 

LIPIA adalah cabang dari Universitas Imam Ibnu Saud di Riyadh Arab Saudi, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan, terfokus pada bahasa Arab dan study Islam. Lembaga ini telah dikenal sejak lama, berdiri sekitar tahun 1980 an. Hingga sekarang telah mengeluarkan alumni-alumni yang mumpuni dalam bidang bahasa Arab maupun ilmu pengetahuan tentang Syari’ah Islam. Fakultas yang ada memang baru Fakultas Syari’ah, namun hal ini telah menjadikan para alumin mampu menjawab persoalan yang ada di masyarakat.

Alumni LIPIA sukses di dunia maya

Salah satu Alumni yang sekarang berkibar namanya di dunia internet adalah Ustadz Ahmad Sarwat, Lc. Beliau mampu menjawab persoalan ummat Islam dengan bekal beliau dari LIPIA dan otodidak beliau dari mengembangkan ilmunya dari kampus ini.

Beliau juga sempat memperkenalkan dunia internet ke adik-adik semesternya termasuk ke saya, berkat bimbingan beliau saya bisa mengenal internet hingga perkembangannya sampai seperti sekarang ini. Beliau pernah membuat kursus singkat di kampus tentang bagaimana membuat email yang kala itu masih berbahasa inggris spt yahoo.com, (Versi  English) tidak seperti sekarang ini sudah banyak layanan email berbasaha indonesia seperti www.gmail.com atau www.yahoo.com (sekarng bisa versi Indonesia)

Jadi sudah saatnya kalangan santri dan ustadz ataupun para kyai melek akan teknologi sadar bahwa dunia dakwah di era modern ini semakin luas, banyak kalangan yang memakai internet maka kita ummat Islam juga harus turut andil dan mengambil bagiannya di dunia internet ini.

Belajar di LIPIA pada tahun 1997 saya mulai pada jenjang DIPLOMA, selama 1 tahun saya tamatkan program ini. Setelah itu saya langsung daftar ke Fakultas Syari’ah tahun 1998, alhamdulillah diterima setelah menjani ujian super berat dengan bekal menghafal jawaban soal-soal qism Syari’ah selama 8 tahun. Yach… soal-soal syari’ah selama delapan tahun dikumpulkan dan dijawab semuanya, semuanya terangkum dalam agenda saya AGENDA DIPLOMA tahun 1997, bagi yang ingin copy-nya bisa di download disini…. Yach… memang berat, begitulah kemuliaan diraih dengan perjuangan beraaat, kemuliaan syahidpun diraih dengan menumpahkan darah hingga nyawa menjadi taruhan yang akhirnya berbuah manis dan amat sangat manis dengan dikelilingi 72 bidadari cantik-cantik di akhirat kelak.

Lolos dalam ujian tulis hingga bisa masuk ke ruang ujian lisan, karena masuk dalam 20 besar di ujian tulis hingga dengan mudah saya sukses di ujian lisan. Ternyata saya didukung oleh DR. Majdi Al Misri, dosen saya di Qism Diploma karena ketika saya ujian tulis masuk di DIPLOMA urutan hasil ujian saya adalah nomer satu. Begitulah pengalaman mendaftar di LIPIA itu memang perlu relasi dan refrensi, pernah ketika saya ditanya di ujian lisan diploma oleh Ustadz Abdul Fattah Al Misri, Kamu kenal siapa di LIPIA ini, saya jawab aja Pak Wariman (syekh wariman), padahal beliau adalah Juru Kunci gedung LIPIA atau Securitynya, he..hee.. (lucu juga yach..) dah gitu diterima deh saya di LIPIA. (Karena ternyata beliau adalah orang kepercayaan para Direktur LIPIA kan direkturnya ganti-ganti tiap beberapa tahun)

Daftar di LIPIA hingga 3 kali lebih.

Banyak teman-teman saya yg ingin masuk LIPIA dengan susah payah, tahun lalu sudah daftar tahun ini daftar juga, bahkan ada teman dari Sumatra yang pernah sampai 3 tahun daftar juga belum diterima, pernah ada yang daftar di I’dad Lughowi tidak diterima, tahun depannya daftar di Takmily, malah diterima, ada juga yang daftar DIPLOMA juga diterima padahal sebelumnya I’dad tidak diterima, ada juga yang lulusan I’dad ingin ke Takmily sudah daftar tidak diterima, akhirnya ada pula yang inisiatif daftar dua qism sekaligus, takmily dan Diploma sekali waktu, ada yang ketahuan akhirnya dianulir ada pula yang tidak ketahuan sama Syu’unith Thullab.

Ada pengalaman mendaftar dari teman-teman di LDK Hawary LIPIA, ada salah satu peserta dauroh untuk masuk LIPIA tidak bisa bahasa arab, namun ternyata malah diterima, namun ada yang sudah bisa bahasa arab dengan fasih, bahkan sempat mengkritik panitia dauroh yang tidak lancar bahasa arabnya, namun dia ternyata malah tidak diterima di LIPIA.

Belajar di Luar Negeri

Rata-rata mahasiswa LIPIA juga punya keinginan untuk belajar di luar negeri seperti Arab Saudi ataupun Mesir,  Pakistan, Shuriya, Yaman, Emirat, Qotor atau yang lainnya. Sebagian mahasiswa ada yang menjadikan LIPIA sebagai batu loncatan untuk belajar di luar negeri, ada yang sudah masuk I’dad baru satu semester atau dua semester kemudian ikut dauroh madinah yang diadakan di berbagai pesantren di Indonesia terus ikut muqobalah ujian masuk akhirnya diterima, maka LIPIA ditinggalkan… masuklah ia ke Universitas Islam Madinah atau Universitas Imam Ibnu Su’ud Riyadh.

Ada juga yang kelihatan malas-malas di LIPIA ternyata ia diterima di Madinah, baru semester 2 udah kesana, padahal menurut teman-temannya, dia tidaklah rajin dan ogah-ogahan belajar. Nasib memang tidak pandang bulu..kata orang.

Memang selayaknya kita berusaha dengan maksimal, kemudian kita tawakkal sepenuhnya kepada Alloh, karena hasilnya Alloh yang menentukan. Saya sendiri pernah berusaha untuk ikut dauroh Madinah di Jogja di Pondok Pesantren Taruna Al Qur’an yang diasuh oleh Ustadz Umar Budihargo, Lc. MA.

Saya mengikuti dauraoh ini sekitar tahun 2000 ketika saya sudah masuk di Fakultas Syari’ah LIPIA, yah namanya coba-coba siapa tahu berhasil, ada kakak kelas saya juga ikut da ternyata berhasil setelah merayu Masyayikh-nya berkali-kali, setiap Syekhnya mau berangkat ngajar dauroh dari rumahnya dia sudah siap nganter Syekh tersebut ke kelas dengan membawakan tasnya, pun demikian ketika pulang dia juga yang membawakan tasnya sambil merayu terus untuk diterima belajar di Madinah. Yah pengalaman orang macem-macem beda-beda ada yang dengan teknik itu ada yang dengan teknik resmi melalui ujian yang diadakan di akhir dauroh atau tengah dauroh, ada teman saya yang berhasil meraih juara satu di ujian tulis pada dauroh itu, akhirnya dites lisan dan diterima, saya pun waktu itu ikut dites lisan, namun Alloh berkehendak lain, saya tidak tahu nama-nama negara di semenanjung arab sana, jadi ya pasrah aja.

Kembali ke pengalaman belajar di LIPIA, saya begitu serius ingin sukses di LIPIA, sampai-sampai ketika ujian semua materi yang diajarkan di buku Bidayah Mujtahid harus di hapal semua, bisa nglembur-nglembur untuk menghafal semua materi. Kadang juga semalam tidak tidur hanya untuk menghafal materi pelajaran. Banyak teman-teman saya yang sudah punya istri-pun ikut begadang bersama saya, ada teman dari Lombok yang sangat semangat untuk belajar Ustadz Abdul Mukmin, Lc namanya, ada juga Ustadz Marzuki Muhammad Nalih, Lc yang sekarang jadi Direktur Mahad AMCF di Lombok, dan teman-teman yang lainnya.

Saya selalu membuat ringkasan pelajaran dari buku Bidayah Mujtahid wa Nihayah Muqtasid. Ringkasan itu di kopi juga oleh teman-teman sekampus, ketika saya naik ke semester selanjutnya, adik kelas juga ikut ngopi ringkasan tersebut. Hingga ringkasan itu dilihat oleh DR. Salim Salaamah MA. Sampai di kelas beliau bertanya kepada saya : “Anta Mu’allif kitab? Ya Mu’allif….. ya mu’allif…” begitu setiap kesempatan beliau selalu komentar tentang ringkasan saya itu. Padahal saya hanya meringkas dan copy paste dari kitab aslinya dari file kitab yang ada di internet sumbernya www.almeshkat.com Yah semoga ini menjadi dorongan bagi saya untuk menulis kitab betulan.

Walaupun sementara waktu yang lalu saya juga sempat menulis Buku Panduan Memakai Maktabah Syamilah yang diterbitkan oleh Pustaka Ridwana join dengan saudara seiman kami berhasil menerbitkannya…. Dan ….. alhamdulillah segala puji hanya bagi Alloh Robb semesta alam, ternyata bukunya menjadi best seller alhamdulillah, terima kasih pula buat DR. Salim Salamah MA.

Memang kemuliaan itu tidak dapat diraih dengan angan-angan dan lamunan, ia hanya bisa diraih dengan kesungguhan dan ketabahan berikut keikhlasan dalam hati, tanpa itu ia hanya sia-sia.

Beasiswa LIPIA is the meaning MUKAFA’AH

Sebuah kata indah di telinga para mahasiswa tatkala kata tersebut diucap oleh Muwadzof Syu’unith Tullab yang keliling di tiap kelas kami atau tertulis di papan pengumuman. Yes, aiwah… mumtaz…. Ok thoyyib dan segala ungkapan senang riang gembira ketika datang Mukafa’ah, mereka sudah menyiapkan agenda untuk melaksanakan keinginan mereka, ada yang makan padang setelah mukafa’ah ada yang pergi mall ada juga yang pergi ke tempat wisata untuk refresing. Untuk sementara ini jumlah mukafa’ah masih tetap dari dulu hingga kini, untuk I’dad mendapat beasiswa uang saku 100 Riyal, adapun Takmily, Diploma dan Syari’ah mendapat beasiswa 200 Riyal. Bila kurs dollar naik maka para thullab amat riang gembira, sementara rakyat indonesia yang  lain pada sedih.

Bila dollar naik maka mukafaahpun akan naik, karena Bendahara Mahad yang dikenal dengan istilah Muhasib itu waktu saya disana sungguhlah cerdik, beliau tidak menukarkan riyal ke rupiah, namun dari mata uang Riyal ditukar dulu ke Dollar, baru setelah itu dollar ditukar ke rupiah, karena riyal selalu tetap bila ditukar degan dollar, sementara rupiah selalu turun di mata dollar. Maka bila 200 riyal dan 1 dollar bernilai  10.000,- maka akan menjadi 500 ribu rupiah atau bisa juga sampai 550 ribu. Pada tahun krismon 98 pernah dollar melonjak hingga 17.000 an, maka para mahasiswa sangat senang waktu itu, termasuk saya. Sempat pulang malam-malam ketika kerusuhan krismon karena membawa uang 2 juta lebih.

Memory Non Sweet

Itu memory indah di LIPIA, ada juga memory susah ketika tidak dapat mukafa’ah hingga tiga bulan, maka hutang adalah jalan keluar, bisa hutang ke teman yang berkantong tebal atau ke Qism Nasyat juga pernah mengadakan Shunduq buat Thullab, hingga diadakan sulfah atau hutang fulus seperti 100 hingga 200 ribu untuk keperluan sehari-hari, namun terkadang program ini ada, terkadang juga tidak ada. Tergantung mood dari Qism Nasyath atau Amin Shunduqnya. Sempat terjadi simpang siur ketika itu, ada yang mendapat informasi bahwa sulfah itu tidak perlu dikembalikan buktinya hingga mukafa’ah datang juga tidak ditarik hutangnya untuk dilunasi.. menurut sebagian tholib, tapi ada pula yang bilang hal itu tidak benar. Padahal sulfah itu hutang jadi harus dikembalikan.

Maka bagi mereka yang pernah sulfah tapi belum dikembalikan juga harus meminta kerelaan Amin Shunduq untuk diikhlaskan fulus itu bila tidak bisa mengembalikannya.

Inilah sekelumit pengalaman belajar di LIPIA lain waktu kita sambung kembali.

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti-spam: complete the taskWordPress CAPTCHA